MANUSKRIP SKRIPSI: HUBUNGAN MEKANISME KOPING TENTANG STIGMA MASYARAKAT DENGAN TINGKAT DEPRESI PASIEN TUBERKULOSIS (TB) DI PUSKESMAS BANYU URIP SURABAYA

 


MANUSKRIP SKRIPSI

 

HUBUNGAN MEKANISME KOPING TENTANG STIGMA MASYARAKAT DENGAN TINGKAT DEPRESI PASIEN TUBERKULOSIS (TB)

DI PUSKESMAS BANYU URIP

SURABAYA

Achmad Dani Nur Cahya Wibawa1, Ima Nadatien2

1Mahasiswa Program Studi S1 Keperawatan, Fakultas Keperawatan dan Kebidanan

Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya

2 Program Studi S1 Keperawatan, Fakultas Keperawatan dan Kebidanan

Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya

E-mail : achmaddani036.ns19@student.unusa.ac.id, iman.69@unusa.ac.id

 

ABSTRACT

 

Tuberculosis (TB) remains a significant health challenge in East Java, Indonesia, with Banyu Urip Health Center in Surabaya recording 51 confirmed cases from March to May 2024. This study aims to analyze the relationship between coping mechanisms regarding societal stigma and depression levels in TB patients at Banyu Urip Health Center, Surabaya.

This study employed a cross-sectional approach with accidental sampling. A questionnaire was used to assess coping mechanisms and depression levels in TB patients. The respondents included 51 TB patients within the service area of Banyu Urip Health Center, Surabaya. Data were analyzed using the Spearman test.

The study found that all respondents (100%) exhibited adaptive coping mechanisms, scoring between 71 to 112. Moreover, 88.2% showed normal levels of depression, scoring between 0 to 9.

The Spearman analysis test (p=0.000) identified a significant relationship between coping mechanisms and depression levels. Therefore, it has been proven that there is a significant relationship between the independent variable (coping mechanisms) and the dependent variable (depression levels) in TB patients at Banyu Urip Health Center, Surabaya.

Adaptive coping mechanisms enhance the responses of TB patients, thereby reducing depression levels.

 

Keywords: Tuberculosis, stigma, depression, coping mechanisms, Banyu Urip Public Health Center

 


ABSTRAK

 

Tuberkulosis (TB) tetap menjadi tantangan kesehatan yang signifikan di Jawa Timur, Indonesia, dengan Puskesmas Banyu Urip Surabaya tercatat 51 kasus terkonfirmasi dari Maret hingga Mei 2024. Maka penelitian bertujuan untuk menganalisis hubungan mekanisme koping tentang stigma masyarakat dengan tingkat depresi pasien tuberkulosis (TB) di Puskesmas Banyu Urip Surabaya.

Penelitian ini menggunakan pendekatan cross-sectional dengan accidental sampling dan instrumen kuesioner untuk menilai mekanisme koping dan tingkat depresi pada pasien TB. Responden berjumlah 51 orang pasien TB di wilayah kerja Puskesmas Banyu Urip Surabaya. Data dianalisis menggunakan uji spearman.

Penelitian ini menemukan bahwa semua responden (100%) menunjukkan memiliki mekanisme koping yang adaptif, dengan skor antara 71 hingga 112. Selain itu, sebanyak (88,2%) menunjukkan tingkat depresi yang normal, dengan skor antara 0 hingga 9.

Hasil uji analisis spearman (p=0,000) teridentifikasi antara mekanisme koping dan tingkat depresi. Oleh karena itu telah dibuktikan bahwa adanya hubungan yang signifikan antara variabel independen yaitu mekanisme koping pasien TB dengan variabel dependen yaitu tingkat depresi pasien TB di Puskesmas Banyu Urip Surabaya.

Mekanisme koping yang adaptif meningkatkan respon dari penderita TB sehingga dapat menurunkan tingkat depresi.

 

Kata kunci: Tuberkulosis, stigma, depresi, mekanisme koping, Puskesmas Banyu Urip

 


PENDAHULUAN


Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu penyakit kronis yang menular dan menjadi masalah dunia serta mempengaruhi kesehatan manusia. Salah satu masalah yang masih ditemukan dalam upaya penekanan jumlah TB adalah kurangnya pemahaman dari masyarakat, masih banyak masyarakat yang kurang memiliki informasi sehingga masyarakat memiliki persepsi yang salah mengenai penderita TB. Persepsi merupakan pengalaman mengenai objek, persitiwa, atau hubungan yang diperoleh dengan cara menyimpulkan sebuah informasi dan menafsirkan sebuah pesan. Stigma merupakan sebuah persepsi atau pandangan negatif seseorang yang dimana akan terbentuk oleh sebuah jarak antar lingkungan sosial dan memiliki perasaan malu serta terisolasi. Bagi pasien para penderita TB, mereka akan dihadapkan oleh beragam stigma dari masyarakat tentang penderita TB, yang mana mampu membuat kondisi pasien TB menjadi depresi, sehingga dapat mempengaruhi keinginan pasien untuk tidak melakukan pengobatan dan mematuhi pengobatan TB (Damayanthy Ekasari et al., 2022).

Sepertiga penduduk dunia diperkirakan telah terinfeksi oleh Mycobacterium Tuberculosis (TB), TB merupakan penyakit yang menjadi perhatian dunia dengan berbagai upaya pengendalian yang dilakukan. Data WHO tahun 2018 menunjukkan bahwa terdapat 10,4 juta kasus TB Paru didunia, 56% kasus TB Paru berada di India, Indonesia, Cina, Filipina, dan Pakistan. INA-TIME atau Indonesia Tuberculosis International Meeting, Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit dr. Maxi Rein Rondonuwu mengatakan TB di Indonesia dan Global masih menjadi masalah kesehatan yang utama. Penyakit ini merupakan satu dari 10 penyebab utama kematian dunia, dan Indonesia adalah negara dengan beban TB peringkat ke-3 tertinggi setelah India dan China. Berdasarkan Global TB Report 2021, diperkirakan ada 824.000 kasus TB di Indonesia, namun pasien TB yang berhasil ditemukan, diobati, dan dilaporkan ke dalam sistem informasi nasional hanya 393.323 (48%). Masih ada sekitar 52% kasus TB yang belum ditemukan atau sudah ditemukan namun belum dilaporkan. Pada tahun 2022 data per bulan September untuk cakupan penemuan dan pengobatan TB sebesar 39% dan angka keberhasilan pengobatan TB sebesar 74% (Kemenkes RI, 2022).

Di Jawa Timur, pada tahun 2021 tercatat ada 43.268 jiwa penderita TB, dan ini merupakan jumlah kasus TB tertinggi ketiga di nasional. Dimana tertinggi pertama adalah Jawa Barat sebanyak 93.626 jiwa penderita TB, dan tertinggi kedua adalah Jawa Tengah sebanyak 44.203 jiwa penderita TB. Angka tersebut masih 45,08 persen dari estimasi kasus yang harus ditemukan. Dengan kata lain, sekitar 50 ribuan penderita TB belum berhasil ditemukan dan diobati sehingga berpotensi menularkan ke orang di sekitarnya. Angka keberhasilan pengobatan kasus TB per kabupaten/kota di Jawa Timur adalah 89,12 persen dari target 90 persen. Angka keberhasilan pengobatan TB di Jawa Timur masih terus didorong. Terutama karena sebanyak 53 persen kabupaten/kota belum mampu mencapai 90 persen keberhasilan pengobatan (Kominfo, 2022). Penanggulangan Tuberkulosis (TB) di Kota Surabaya gencar mengeliminasi keberadaan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis tersebut. Pemkot Surabaya fokus pada upaya eliminasi kasus TB dan berhasil melebihi target skrining nasional mencapai 79.632 kasus (suspek) atau 130,96 persen (capaian terduga TB) dari target Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI), yakni 60.804 kasus estimasi terduga TB. Sebesar 7.070 kasus yang terdiagnosa TB sudah mendapatkan treatment coverage TB 14 Desember 2022. Data 7.070 itu terdiri dari warga Surabaya dan non Surabaya, Dinkes Kota Surabaya terus memaksimalkan pelayanan kesehatan yang tidak hanya dinaungi oleh Pemkot Surabaya, tetapi juga milik swasta (Surabaya, Eliminasi TBC, DinKes Surabaya Melebihi Target Skrining Nasional, 2022).

Banyak penderita TB yang mengalami stress, depresi dan kecemasan yang dikarenakan salah satu dari faktor yang dirasakan oleh penderita adalah mekanisme koping yang buruk dalam merespon stressor yang dihadapi. Koping merupakan adaptasi psikologis pada stress dan kejadian hidup yang serius. Semakin baik koping yang digunakan untuk merespon stressor, semakin kecil resiko mengalami stress, sebaliknya bila koping yang digunakan untuk merespon adalah koping maladaptif makka resiko stress semakin tinggi. Gangguan psikologis stress, depresi dan kecemasan yang dialami oleh penderita tuberkulosis merupakan manifestasi dari mekanisme koping maladaptif terhadap stressor yang mereka hadapi sehingga berdampak pada kesehatan fisiknya (Rozi, 2017). Salah satu hambatan dalam penemuan kasus TB adalah masih tingginya stigmatisasi terhadap orang dengan TB. Tingginya stigma terhadap penyakit TB dapat berdampak pada timbulnya stigma yang dirasakan pada pasien TB. Stigma terhadap penderita TB memiliki dampak negatif terhadap cara pandang individu TB tentang dirinya. Adapun bentuk stigma yang dirasakan pada pasien TB dapat berupa pengasingan atau pengisolasian dari interaksi sosial (Ishak, 2023). Depresi merupakan keluhan psikologis yang paling sering dirasakan pasien yang menjalani pengobatan TB. Dampak psikososial penderita penyakit kronis menurut Kaz de Jong dilaporkan adanya depresi berat dan masalah emosional ringan lainnya seperti kurang bermotivasi dan kebosanan terkait penyakitnya (Ariyanto et al., 2020). Depresi dialami penderita TB akan memperburuk keadaan penderita TB dan akan berdampak pula terhadap kesehatan yang akan di terima oleh penderita TB. Depresi dapat ditimbulkan karena lamanya pengobatan yang dilakukan oleh penderita TB, selain itu stigma yang ada dimasyarakat mengenai penyakit TB yang sangat mudah menular, Maka hal tersebut dapat memperburuk keadaan penderita TB karena mereka merasa tidak diterima dimasyarakat seperti dikucilkan dan membuat penderita TB depresi. (Suriya, 2018).

Berdasarkan latar belakang yang telah diangkat oleh peneliti, pasien TB rentan terkena depresi yang dikarenakan mekanisme koping pasien TB yang tidak efektif terhadap stigma masyarakat menyebabkan munculnya kondisi depresi yang mengganggu dalam proses pengobatan pasien TB. Maka dari itu, peneliti membatasi masalah pada hubungan mekanisme koping tentang stigma masyarakat dengan tingkat depresi pasien tuberkulosis (TB) di puskesmas Banyu Urip Surabaya.


METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional, dimana jenis penelitian ini menekankan waktu pengukuran /observasi data variabel independen dan dependen hanya satu kali pada satu saat. Pada jenis ini, variabel independen dan dependen dinilai secara bersamaan dalam satu waktu. Tentunya tidak semua subjek penelitian harus diobservasi pada hari atau pada waktu yang sama, akan tetapi baik variabel independen maupun dependen dinilai hanya satu kali saja.

Populasi dalam penelitian ini adalah penderita TB di Puskesmas Banyu Urip Surabaya. Pada bulan Maret hingga Mei 2024, terdapat total pasien sebanyak 51 orang yang terkonfirmasi TB di Puskesmas Banyu Urip Surabaya. Besar sampel dalam penelitian ini sebesar orang yang terdiagnosis Tuberkulosis sejak bulan Maret hingga Mei 2024 di wilayah kerja Puskesmas Banyu Urip Surabaya. Adapun besar sampel yang diambil dalam penelitian ini yaitu sebesar 51 responden.

Pengambilan sampel yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan Non-Probability Sampling dengan tipe Accidental Sampling (Reliance Available Sampling). Teknik sampling ini mengandalkan pada keberadaan subjek untuk dijadikan sampel yaitu siapa saja yang secara kebetulan bertemu dengan peneliti dan dipandang cocok sebagai sumber data, maka subjek tersebut dijadikan sampel.

Peneliti ingin meneliti adanya hubungan mekanisme koping tentang stigma masyarakat sebagai variable independent dengan menggunakan instrument kuisioner Brief Coping Orientation to Problem Experienced (Brief COPE) dan depresi pasien TB di puskesmas banyu urip surabaya sebagai variable dependen dengan menggunakan instrument kuesioner Depression Anxiety Stress Scale (DASS) terhadap pasien TB. Peneliti mengeluarkan 51 orang yang merupakan responden dari penelitian.

Instrumen mekanisme koping terdiri dari 28 pertanyaan yang disesuaikan dengan karateristik dengan penderita TB terhadap indikator yang mempengaruhi mekanisme koping. Kuisioner Brief COPE (Coping Orientation to Problem Experinced) tersebut dibuat oleh Carver pada tahun 1989 dengan 28 item dari 14 subskala. Pernyataan ini terdiri dari 4 poin pernyataan yaitu : Selalu, sering, kadang-kadang, tidak pernah. Setelah data kuisioner faktor mekanisme koping terkumpul peneliti memberikan skor pada setiap pernyataan. Bila pernyataan favorable jawaban sangat selalu = 4, sering = 3, kadang-kadang = 2, tidak pernah = 1. Bila pernyataan unfavorable jawaban selalu = 1, sering = 2, kadangkadang = 3, tidak pernah = 4, kemudian skor dijumlahkan dan dikategorikan sesuai kategori jika adaptif skor yang diperoleh 71-112 dan jika maladaptif skor yang diperoleh 28-70.

Depression Anxiety Stress Scales (DASS) merupakan salah satu alat ukur yang lazim digunakan. DASS adalah skala asesmen diri sendiri (self-assesment scale) yang digunakan untuk mengukur kondisi emosional negatif seseorang yaitu depresi, kecemasan dan stress. Ada 42 butir/item penilaian yang digunakan. Dari 42 item tersebut sebanyak 14 item berkaitan dengan gejala depresi (Kusumadewi et al., 2020).

Pernyataan yang mengukur tentang depresi terdapat pada item nomor 3, 5, 10, 13, 16, 17, 21, 24, 26, 31, 34, 37, 38, 42. Jawaban tes DASS ini terdiri atas 4 pilihan yang disusun dalam bentuk skala yaitu 0 = tidak pernah, 1 = kadang- kadang, 2 = sering, 3 = sangat sering. Nilai yang diperoleh dari respon responden akan ditotal dan dikategorikan sesuai dengan tingkat gangguan psikologis responden. respon depresi dibagi menjadi 5 kategori yaitu 0-9 = normal, 10-13 = depresi ringan, 14-20= depresi sedang, 21-27 = depresi berat dan ≥28 = depresi sangat berat (Novitasari, 2015).

Data lembar kuisioner yang telah terkumpul diperiksa ulang untuk mengetahui kelengkapan dari isinya. Setelah data telah lengkap, data dikumpulkan dan dikelompokkan. Setelah itu data ditabulasi kemudian dianalisa dengan analisis bivariat untuk mengetahui korelasi/hubungan antara variabel independent dan dependent menggunakan Uji Spearman. Jika hasil p ≤ 0,05 maka terdapat hubungan mekanisme koping tentang stigma masyarakat dengan depresi pasien tuberkulosis (TB) di puskesmas Banyu Urip Surabaya.


Link PDF : 

http://digilib.unusa.ac.id/data_pustaka-38893.html

Fakultas Keperawatan dan Kebidanan UNUSA Surabaya

https://fkk.unusa.ac.id/

Komentar